Kamis, 13 Desember 2012

Batalkah Wudlu Bila Bersentuh dengan Perempuan? (lanjutan 2)

SOAL:
Bathalkah wudlu' orang yang bersentuh dengan perempuan yang boleh ia kawin?

JAWAB:
Ada sebagian daripada ulama memandang, bahwa bersentuh dengan perempuan itu membathalkan wudlu'.
Ada sebagian lagi memandang tidak bathal.

Fihak yang mengatakan bathal itu alasannya ialah riwayat dari Mu'adz bin Jabal:
Artinya: Seorang laki-laki pernah datang kepada Rasulullah saw. lalu ia bertanya: Apa hukum Rasulullah tentang seorang laki-laki berjumpa seorang perempuan ia kenal, lalu ia lakukan kepada perempuan itu sekalian apa yang seorang lakukan terhadap isterinya, tetapi tidak ia bersetubuh dengan perempuan itu? Di waktu itu turun ayat ini (yang artinya): "Kerjakanlah shalat di dua bahagian siang dan di permulaan malam, karena kebaikan itu menghilangkan kejahatan."
Maka Rasulullah saw. berkata: Pergilah engkau berwudlu' lantas shalat
. (HR. Ahmad)

Maqshudnya:
Ada orang bertanya kepada Rasulullah: Apa hukum menyentuh, memegang, mencium perempuan lain?
Di waqtu itu turun ayat yang artinya: Kerjakanlah shalat pagi, petang, dan malam, karena kebaikan itu bisa menghilangkan kejahatan.
Sesudah itu Rasulullah suruh orang itu berwudlu' dan shalat.

Dan firman Allah Ta'ala:
Artinya: ... atau kamu menyentuh perempuan ... (Q. An-Nisa 43)
Maqshudnya: Bahwa menyentuh perempuan itu membathalkan wudlu'.

Fihak yang menganggap tidak bathal wudlu' dengan sebab bersentuh perempuan itu, menolak dua keterangan yang ditunjukkan oleh fihak yang mengatakan bathal wudlu' dengan sebab bersentuh perempuan itu.

Mereka yang menolak berkata:
Pertama, bahwa hadiets yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad itu tidak shah. Hadiets-hadiets itu juga diriwayatkan oleh imam-imam Bukhari dan Muslim, tetapi dengan tidak pakai perkataan: "Rasul suruh berwudlu' dan shalat". Oleh sebab itu tidak boleh dijadikan alasan.

Walaupun dipandang shah, tidak bisa juga dijadikan alasan untuk bathal wudlu', karena orang yang bertanya itu tidak menerangkan yang ia sentuh perempun itu ketika ia ada berwudhu'.

Kedua, bahwa perkataan "lamastumun-nisa" di ayat itu sungguhpun menurut ashalnya berarti "menyentuh perempuan" dengan tangan, tetapi di sini tidak boleh dikasih arti itu lagi, melainkan wajib diberi arti "bersetubuh dengan perempuan" karena:

1. Kalau ditetapkan arti "lamastum" itu "bersentuh" niscaya bersentuh dengan ibu dan saudara perempuan juga bathal wudlu', karena ayat itu atau ayat lain tidak mengecualikan ibu atau saudara, dan tidak juga ada hadiets yang mengecualikan begitu, sedang fihak yang membathalkan itu berkata, bahwa bersentuh dengan ibu, saudara dan lain-lain perempuan yang haram dinikahnya itu tidak membathalkan wudlu'.
Dengan apakah daliel mereka mengecualikan begitu? Coba mereka kasi keterangan!

2. Ada diriwayatkan dari Sitti 'Aisyah:
Artinya: Bahwasanya Nabi saw. pernah mencium salah seorang isterinya, kemudian ia shalat, padahal tidak ia berwudlu' (lagi). (HR. Abu Dawud).

Hadiets itu sungguhpun lemah, tetapi kata ulama hadiets, bahwa kelemahannya telah hilang lantaran ada beberapa cabang riwayatnya dari Sitti 'Aisyah.
Telah berkata Hafizh Ihnu Hajar, bahwa hadiets itu diriwayatkan orang atas sepuluh rupa.

Dan diriwayatkan lagi:
Artinya: Telah berkata Sitti 'Aisyah: Pada satu malam saya kehilangan Rasulullah saw. dari tempat tidur, lalu saya meraba dia (di dalam gelap) maka terletaklah dua tangan saya di dua tapak kakinya yang tercacak, sedang ia di dalam sujud. (HSR. Muslim).

Dan ada beberapa lagi Hadiets yang sama artinya atau maqshudnya dengan hadiets-hadiets yang tersebut di atas itu.

Ringkasan:
Fihak yang menganggap bathal wudlu lantaran bersentuh dengan perempuan itu, dalielnya satu hadiets yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan satu ayat Quran, An-Nisa' 43.
Fihak yang berkata tidak bathal wudlu' lantaran bersentuh perempuan itu, menolak hadiets riwayat Imam Ahmad tadi, karena tidak shahnya, dan juga hadiets itu, tidak menunjukkan bathal wudlu' yang menyentuh perempuan, karena sungguhpun Rasulullah ada perintah ia berwudlu' tetapi tak dapat dikatakan yang orang itu ashalnya berwudlu' lantas bathal wudlu'nya dengan sebab bersentuh perempuan itu. Hanya diperintah dia berwudlu' berhubung dengan shalat.

Adapun ayat "lamastumunnisa" itu fihak ini artikan: bersetubuh dengan perempuan, bukan bersentuh dengan perempuan, karena
1. kalau dikatakan bersentuh bathal, niscaya bersentuh dengan ibu dan anak perempuan juga bathal;
2. ada beberapa hadiets yang lemah¹ tetapi jadi shahih lantaran banyak riwayatnya, yaitu hadiets yang menunjukkan Rasulullah pernah cium seorang isterinya lalu terus shalat dengan tidak berwudlu' lagi.
Ada hadiets yang shah, yaitu hadiets riwayat Muslim tentang Sitti 'Aisyah memegang tapak kaki Rasulullah yang sedang shalat.

Keputusan:
Orang yang menganggap bathal wudlu' dengan sebab bersentuh perempuan itu alasannya tidak quat, yaitu hadiets yang dijadikan alasan itu lemah, dan ayat yang dijadikannya alasan itu tidak menunjukkan bathal bersentuh, tetapi bathal bersetubuh, karena ada beberapa hadiets yang menunjukkan Nabi pernah cium isterinya, lantas terus shalat, dan ada pula hadiets yang menunjukkan Nabi ada pernah disentuh oleh isterinya selagi ia shalat.

Oleh sebab sekalian yang tersebut itu teranglah kepada orang yang berfikiran, bahwa menyentuh perempuan itu tidak membathalkan wudlu', walaupun perempuan yang halal dinikahnya.
A.H.

¹ Imam al-Bazaar ada meriwayatkan hadiets ini dengan sanad yang shah (jayyid). Lihat al-Muhalla I:246, noot, dan Ibnut-Turkumaniy di Baihaqiy I:125. AQ.

Buku: 1
Halaman: 60-63
Penjawab: A. Hassan

Selasa, 04 Desember 2012

Batalkah Wudlu Bila Bersentuh dengan Perempuan? (lanjutan)

SOAL:
"Au-lamas-tumunnisa" itu maqshudnya bahwa kalau kamu sentuh perempuan bathallah wudlu' kamu. Kalau betul begitu, manakah keterangan tentang bathal wudlu' perempuan lantaran bersentuh itu?

JAWAB:
Tentang sentuh perempuan itu, sudah kita terangkan di muka dan P.I. Nomor 8 kaca 40-48. Di situ tuan bisa dapat tau apa maqshud sentuh.

Adapun tentang bathal wudhu' perempuan lantaran bersentuh itu diambil dari keterangan-keterangan yang tersebut di bawah ini:

1. "Lamastum" atas timbangan "fa'-'al-tum" itu mempunyai arti musyarakah, ya'ni bersekutu. Jadi artinya yang jelas ialah "bersentuhan", yaitu laki-laki sentuh perempuan dan perempuan sentuh laki-laki. Maka apabila hal persentuhannya itu sama, tak dapat tiada hukumnya juga sama.

Ringkasnya ayat itu: Bahwa kalau kamu sentuh perempuan atau perempuan sentuh kamu, maka bathallah wudlu' kamu (ya'ni kamu laki-laki dan perempuan).

2. Sabda Nabi saw.:
Artinya: Apabila bertemu kemaluan dengan kemaluan, maka wajiblah mandi. (HSR. Muslim)

Dan ada beberapa hadiets lagi yang ma'nanya, bahwa apabila bersentuh laki-laki dengan perempuan maka wajiblah mereka mandi.

Jelasnya: ayat itu sendiri ada mempunyai arti, bahwa kalau laki-laki dengan perempuan bersentuhan (bersetubuh), maka bathallah wudlu' keduanya. Tetapi kedatangan hadiets itu telah menjadikan arti ayat itu lebih terang, atau boleh dibilang hadiets tadi menjadi afsir bagi ayat itu.
A.H.
Buku: 1
Halaman: 59-60
Penjawab: A. Hassan

Kamis, 29 November 2012

Batalkah Wudlu Bila Bersentuh dengan Perempuan?


SOAL:
Suami yang dalam shalat, dengan tak sengaja si isteri menyentuh tangannya atau kakinya yang tak terbungkus. Apakah bathal shalatnya, dan wajibkah ia mengambil wudlu lagi buat melanjutkan shalatnya?

JAWAB:
Di fashal yang tersebut, ulama-ulama ahlulfiqh ada terbagi dua firqah.
Firqah yang pertama berpendapat, bahwa bersentuhan lelaki dengan perempuan yang boleh dikawin dengan tiada berlapis (lapik), dengan syahwat atau tidak itu, membathalkan wudlu.
Adapun firqah yang kedua berpendapat bahwa bersentuhan dengan perempuan itu tidak membathalkan wudlu.

Kedua-duanya firqah itu ada berdaliel dengan ayat Quran menurut faham masing-masing.

Pendapat firqah pertama:
Firqah pertama ini ada mengatakan bahwa bathalnya wudlu dengan sebab bersentuhan sebagaimana di atas tadi, lantaran Allah telah berfirman begini:
Artinya: Atau kamu itu bersentuhan dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka tayammumlah ... (Q. An-Nisa' 43)

Perkataan
lams yang tersebut di ayat ini artinya menurut ashal bahasa ialah persentuhan suatu barang dengan lainnya.

Pendapat firqah kedua:
Ada sebagian dari ulama mufassirien yang berkata, bahwa perkataan lams itu apabila berhubungan dengan perempuan, tidak boleh diartikan bersentuhan, tetapi harus diartikan jima' (bersetubuh).

Inilah misalnya:
artinya: Dia mempersetubuhi isterinya.
Jadi, tidak boleh diartikan sebagai arti ashal (letterlijk), tetapi harus diartikan dengan arti majaz (figuulijk).

Senin, 26 November 2012

Membaca Quran tanpa Wudlu

SOAL:
Orang yang tidak berwudlu bolehkah pegang dan mengaji Quran?

JAWAB:
Memegang Quran itu tidak perlu kepada wudlu sebagamana kita sudah jawab di halaman 43 s/d 52.
Adapun yang mengaji Quran itu tidak ada siapapun memestikan berwudlu.
Lantaran itu teranglah, bahwa baca Quran itu tidak perlu kepada wudlu.
A.H.
Buku: 1
Halaman: 53
Penjawab: A. Hassan

Sentuh/Pegang Quran tanpa Wudlu (lanjutan)

SOAL:
Berhubung dengan masalah yang tersebut di muka fashal "Menyentuh atau membaca Quran tidak perlu wudlu" dengan beralasan satu hadiets:
 
Hadiets mana menurut keterangan tuan, di isnadnya ada seorang yang lemah, begitu juga diquatkan oleh Imam Nawawi, bahwa salah satu dari rawinya ada tercela, dan hal ketidakshahnya hadiets tersebut, tuan menganggap sudah cukup, maka dengan ini saya akan bertanya:
Betulkah hadiets tersebut tidak shah, padahal di dalam Al-Quran ada ayat yang menerangkan:
Artinya: Tidak menyentuh (memegang atau beriman) kepada Al-Quran, melainkan orang-orang yang suci. (Q. Al-Waqiah 79)

Apakah ma'na dari hadiets tersebut tidak bersamaan dengan firman Tuhan itu?

Bukan maqsud saya di sini tidak menyetuui dengan keterangan yang tuan telah sebutkan di muka, tapi saya hanya minta keterangan tentang tidak shahnya hadiets itu, sedang hadiets itu seolah-olah menjadi keterangan dari firman Tuhan itu bukan?

Senin, 19 November 2012

Sentuh/Pegang Quran tanpa Wudlu

SOAL:
Di dalam kitab Sirajul-Munir terdapat hadiets:
itu sanadnya ada shahih, bagaimanakah betulnya dan manakah yang quat?

JAWAB:
Hadiets itu di sanadnya ada seorang yang lemah, lantaran itu maka Imam Nawawi dan lain-lain ahli hadiets menganggap hadiets itu lemah.

Menurut qaidah ahli hadiets, bahwa:
Artinya: Celaan itu didahulukan daripada pujian.

Maqsudnya, bahwa salah satu dari orang-orang yang meriwayatkan satu hadiets itu, kalau dicela oleh satu ahli hadiets, tetapi ada pula lain ahli hadiets memandang orang itu tidak tercela, maka perkataan orang yang mencela itulah yang dipakai; dan perkataan orang yang memuji itu tidak dipakai. Sebabpun dipakai perkataan orang yang mencela, karena ia ada menunjukkan kecelaan orang yang ia cela, umpama orang itu suka dusta, suka lupa dan sebagainya.
Adapun pemuji itu terus memuji orang yang tercela tadi, ia tak tahu yang orang itu suka dusta, suka lupa dan sebagainya.

Maka hadiets:
tadi, Imam Nawawi dan lain-lainnya menganggap lemah, lantaran satu dari rawinya ada tercela.
Hal ini tidak diketahui oleh satu golongan, maka lantaran itu mereka anggap hadiets itu shahih.

Misalnya:
Ada seorang tertuduh yang ia mencuri.
Orang ini tentu dibawa ke hadapan hakim. Hakim nanti bertanya: Adakah saksi yang tahu orang ini mencuri?
Kalau ada saksi yang cukup, tentu hakim menghukum orang itu sebagaimana mestinya, walaupun di waqtu itu ada seribu orang berkata: Orang ini baik.

Dengan keterangan ini cukuplah rasanya untuk menerangkan ketidak-shahan hadiets itu.


Sekarang marilah kita pandang hadiets itu sebagai hadiets yang shah, lalu kita fikirkan ma'nanya.
Artinya: Tidak akan (atau tidak boleh) menyentuh Quran melainkan orang yang "thahir". (HR. Al-Atsram)

Menurut ilmu "ushul fiqh", perkataan "thahir" itu dikatakan "musytarik", yaitu satu perkataan yang mempunyai beberapa arti yang berlainan:

Kamis, 25 Oktober 2012

Doa Sesudah Wudlu

SOAL:
Apakah hukumnya membaca doa sesudah wudlu?

JAWAB:
Membaca syahadat sesudah wudlu itu ada disuruh oleh Nabi, oleh karena itu, hendaklah kita kerjakan sebagaimana yang diajarkan olehnya:
(klik untuk memperbesar)
Artinya: Aku mengaku bahwasanya tidak ada Tuhan lain daripada Allah, tunggal Ia, tidak ada sekutu bagiNya; dan aku mengaku, bahwasanya Muhammad itu hamba Allah dan RasulNya.
(H.S.R. Muslim)
Inilah Hadiets yang sah dari hal ucapan sesudah mengambil wudlu. Menurut riwayat Tirmidzi, sesudah syahadat itu ada tambahan doa:
(klik untuk memperbesar)
Artinya: Hai Tuhan! Jadikanlah aku satu daripada orang-orang yang suka taubat dan satu daripada orang-orang yang suka kepada kebersihan.

Pendeknya menurut hadiets-hadiets yang sahieh, di permulaan wudlu, Nabi ada baca bismillah dan di penghabisannya Nabi ucap syahadat yang tersebut tadi.

Riwayat yang pakai tambahan inii, dan lain-lain tambahan, semuanya lemah.

Adapun riwayat-riwayat yang mengatakan ada doa waktu cuci tiap-tiap anggota itu, terlebih lemah, hingga ada ulama berkata riwayat itu tidak ada asalnya.

H.M.A.
Buku: 1
Halaman: 42-43
Penjawab: H. Mahmud Aziz